open source
OPEN SOURCE
Perkembangan dunia komputer makin ramai dan menarik dengan adanya pendekatan-pendekatan baru dalam pengembangan perangkat lunak (software). Software patent dikenal di Amerika Serikat, sementara di Indonesia proteksi HaKI (Hak Kekayaan Intelektual atau Intellctual Property Rights, IPR) ini tidak dikenal. Pendekatan lain adalah adanya Free Software Foundation yang mempelopori GNU Public Lincense (untuk software atau tools yang dikenal dengan GNU), serta kelompok lain yang mempelopori copyleft, copywrong, public domain dan sejenisnya.
Salah satu pendekatan yang mulai populer adalah adanya open source, dimana source code dari sebuah program atau paket software dapat diperoleh atau dilihat oleh publik meskipun source code tersebut belum tentu public domain. Contoh software open source yang terkenal antara lain Linux, Apache (web server), perl, fetchmail, dan masin banyak yang lainnya.
Konsep open source ini cukup membingungkan bagi para pelaku dunia software. Pada pemikiran lama yang konvensional, source code dijaga ketat sebagai rahasia perusahaan. Jika sekarang semua orang dapat melihat source code tersebut, bahkan bebas (free), lantas dimana kita dapat melakukan bisnis?. Dimana nilai ekonomi dari open source?. Model bisnis apa yang harus kita jalankan?.
Model yang mirip di dunia perangkat keras (hardware) juga sudah ada. Di dunia hardware adanya kebebasan memilih (freedom) sudah lama. Di dunia software, kebebasan ini baru terjadi. Sebagai contoh monopoli Microsoft Office berlangsung selama 10 tahun.
Cara Terjadinya Open Source
Proyek open source biasanya bermula dari kebutuhan seseorang. Akan tetapi ternyata problem tersebut juga merupakan problem orang banyak (typical problem). Dalam penjabaran Eric Raymond hal ini diterjemahkan dalam “lessons learned” nomor 1 dan 18. Pengalaman atau pelajaran pertama mengatakan bahwa “Every good work of software starts by scratching a developer’s personal itch”. Sementara pelajaran nomor 18 mengatakan, “To solve an interesting problem, start by finding a problem that is interesting to you”.
Dari kebutuhan pribadi (dan komunitas) inilah muncul proyek open source. Dalam perjalanannya banyak aspek non-teknis (sosial) yang mempengaruhi pengembangan proyek tersebut. Masalah ego, misalnya jika diarahkan kepada hal tertentu dapat produktif. Sebagai contoh, dokumentasi untuk sistem Linux cukup banyak padahal programmer biasanya dikenal kurang suka menulis dokumentasi. Jadi pendapat bahwa programmer egois, tertutup, dan ganas tidak beralasan. Kerjasama (cooperation) secara moral adalah hal yang baik dan software hoarding secara moral adalah salah.
Keuntungan Open Source
Banyak keuntungan dari open source. Beberapa keuntungan antara lain dibahas pada bagian berikut.
Sumber Daya Manusia
Kegiatan open source biasanya melibatkan banyak orang. Memobilisasi banyak orang dengan biaya rendah (dan bahkan gratis) merupakan salah satu kelebihan open source. Dalam kasus Linux programmer yang terlibat dalam pengembangan Linux mencapai ribuan orang. Bayangkan jika mereka harus digaji sebagaimana layaknya programmer yang bekerja di perusahaan yang khusus mengembangkan software untuk dijual. Kumpulan skill ini memiliki nilai yang berlipat-lipat tidak sekedar ditambahkan saja.
Untuk menemukan kesalahan (bugs) dalam software diperlukan usaha yang luar biasa. Eric Raymond menyebut Linus’ Law yang berisi: “Given enough eyeballs, all bugs are shallow”. Menemukan sumber kesalahan ini merupakan salah satu hal yang tersukar dan mahal. Jumlah voluntir yang banyak ini meningkatkan probabilitas ditemukannya bugs. (Somebody finds the problem and somebody else understands it.)
Kegiatan debugging dapat dilakukan secara paralel. Coding (pekerjaan menuliskan software) masih merupakan aktivitas yang mandiri (solitary). Akan tetapi nilai tambah yang lebih besar datang dari pemikiran komunitas.
Peningkatkan kualitas
Adanya peer review meningkatkan kualitas, reliabilitas, menurunkan biaya, dan meningkatnya pilihan (choice). Adanya banyak pilihan dari beberapa programmer membuat pilihan jatuh kepada implementasi yang lebih baik. Contoh nyata dari hal ini adalah web server Apache yang mendominasi pasar server web.
Menjamin masa depan software
Konsep open source menjamin masa depan (future) dari software. Dalam konsep closed-source, software sangat bergantung kepada programmer. Bagaimana jika programmer tersebut berhenti bekerja atau pindah ke perusahaan lain? Hal ini tentunya akan merepotkan perusahaan pembuat software tersebut. Di sisi pembeli juga ada masalah. Bagaimana bila perusahaan pembuat software tersebut sudah gulung tikar? Nilai closed-source software akan cenderung menjadi nol jika pembuat perusahaan tersebut sudah bangkrut. Dengan kata lain, “the price a consumer will pay” dibatasi oleh “expected future value of vendor service”. Open source tidak memiliki masalah di atas.
Bisnis Open Source
Sebuah produk software memiliki dua nilai (value): use value dan sale value. Use value merupakan nilai ekonomis yang diperoleh dari penggunaan produk tersebut sebagai tool. Sementara sale value merupakan nilai dari program tersebut sebagai komoditi.
Banyak orang menilai bahwa nilai ekonomi dari produksi software berdasarkan model pabrik (factory model), yaitu:
· Software developer dibayar berdasarkan sale value.
· Sale value dari software nilainya proporsional terhadap development cost (yaitu biaya yang dibutuhkan untuk menduplikasi fungsi software tersebut dalam bentuk software lain)
Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya:
· Lebih dari 90% code / software dibuat untuk keperluan internal dan dikembangkan di dalam (written in house). Hal ini dapat dilihat dari iklan di surat kabar (lowongan kerja). Termasuk di dalam software yang inhouse written ini adalah device driver dan embedded code untuk microchip-driver machines (oven, pesawat terbang, dsb.).
· In-house code mempunyai karakteristik yang membuatnya susah digunakan kembali (reuse). Hal ini menyebabkan susahnya maintenance (upgrade, update). Padahal, maintenance merupakan 75% dari biaya/gaji programmer.
· Hanya 20% gaji yang dibebankan secara penuh pada use value, dan 5% dari sale value. Silahkan anda tanya kepada orang sekitar anda (software programmer) berapa orang yang gajinya bergantung kepada sale value dari software.
Filosofi yang salah, dimana pendapat orang dan fakta ternyata berbeda menyebabkan hasil yang kurang baik. Perlu diingat bahwa lebih dari 75% life cycle sebuah proyek adalah maintenance (dimana termasuk debugging, extension). Sementara struktur harga biasanya tetap (fixed).






0 komentar:
Posting Komentar